Tuesday, 15 February 2011

MESIN OTTO

Mesin ini dikenal dengan juga dengan sebutan mesin bensin, karena mesin ini menggunakan bahan bakar bensin atau sejenisnya. Tipe pembakarannya adalah pembakaran dalam, yang menggunakan nyala busi untuk proses pembakarannya. Mesin ini menggunakan putaran 4 silinder dan terdapat karburator.

Sejarah Penemuan Mesin Otto
» 14 Juni 1832 di Holzhausen, Jerman: Nicolaus August Otto lahir. Pada mulanya, Otto adalah seorang sales teh keliling, hidupnya tidak mewah dan kaya.
» 1862: Otto mengganggas sebuah model mesin baru yang bergerak atau dengan 4 putaran silinder. Otto berpikir, mesin yang menggunakan bahan bakar cair maka pengoprasiannya akan lebih mudah dan lebih praktis. Kemudian Otto merancang kaburator dan berniat mematenkannya, sayangnya paten tersebut ditolak lembaga paten karena pernah dibuat oleh orang lain. Otto kembali menekuni proyek mesin 4 taknya, namun saat menekuni penemuannya, Otto mengalami kesulitan dalam menemukan sistem pembakaran untuk menggerakan mesin, beliau pun meningalkan proyek mesin 4 tak tersebut dan beralih menyempurnakan mesin yang menggunakan putaran 2 silinder dengan bahan bahan bakar gas
» 1863: Otto mendapatkan hak paten atas penyempurnaan mesin 2 taknya tersebut. Pada tahun yang sama, Otto mulai bekerja sama dengan Eugenne Langen, pemilik perusahaan gula. Otto mendapatkan support dana dari beliau. Kemudian, mereka berdua membuat pabrik kecil, meneruskan ciptaan yang sudah dipatenkan.
» 1864: Otto berhenti menjadi salesman dan serius menekuni penemuannya. Beliau terus menyempurnakan mesin yang telah ditemukan sebelumnya, mesin penemuan Entein Lenoir.
» 1867: mesin sistim 2 dorongan putaran dengan menggunakan bahan bakar gas, dapat medali dalam WORLD FAIR di Paris.
» 1872: dia merekrut seorang engineer muda bernama Gottlieb Daimler. Sekalipun Otto mendapat keuntungan besar dari segala penemuannya, namun ia belum puas karena belum menemukan penyempurnaan mesin 4 tak yang telah menjadi angan angannya sejak lama, yang mengompres campuran bahan bakar minyak dan udara sebelum terjadi pembakaran, yang akan menjadi tenaga dorong putaran.
» 1876: akhirnya Otto berhasil membuat mesin 4 tak, dan memperoleh hak patennya 1 tahun kemudian. Mesin ini menjadi begitu terkenal dan mendapat respon amat baik dari pasar. Jelas karena keunggulannya dalam 10 tahun, mesin ini terjual 30.000 buah dan mesin Lenoir menjadi tidak laku sama sekali.
» 1886: mesin ini menjadi perkara, akibat seorang berkebangsaan Perancis, Alphonse Beau de Rochas, menemukan hal ini juga pada tahun 1962. Tapi Alphonse Beau de Rochas tidak bisa dianggap seorang tokoh penemu, karena penemuannya tidak pernah dipasarkan dan dipublikasikan, walaupun sudah pernah dipatenkan.Lebih jauh lagi, tidak pernah muncul model ciptaanya. Yang lebih penting lagi, Otto tidak dapat ilham ciptaanya dari Alphonse Beau de Rochas, melainkan dari mesin 2 tak ciptaan Lenoir. Otto tidak kehilangan hak paten atas ciptaannya mesin 4 tak, tapi dipasar mesinnya menjadi semakin laku.
» 1891: Otto meninggal dunia dalam keadaan yang sangat kaya raya.

Cara Kerja Mesin Otto
Mesin Otto dilengkapi dengan busi pada ruang bakarnya, sehingga terdapat lecutan listrik/api yang berfungsi sebagai pembakar mula bahan bakar yang telah mencapai tekanan tertentu, yang siap untuk terjadi pembakaran. Sebuah mesin otto dilengkapi dengan sebuah karburator. Dimana karburator berfungsi untuk mengatur pencampuran bahan bakar dengan udara dam menyemprotkan bahan bakar tersebut kedalam ruang bakar. Terdapat dua proses adiabatik dan dua proses isokhorik pada proses siklus otto. Proses siklus tersebut digambarkan pada diagram berikut. gb. 3.diagram pembakaran
Cara Kerja Mesin Otto terjadi dalam empat langkah yakni :
Intake Stroke. Pada langkah ini piston bergerak kebawah silinder dan tekanan akan turun (tekanan negatif). Katup masuk (Intake Valve) terbuka. Karena tekanannya yang rendah campuran udara dan bahan bakar terhisap kedalam silinder.
Compression Stroke. Pada titik mati bawah (TMB), silinder berada pada volume maksimum dan katup masuk (intake valve) tertutup. Sekarang piston bergerak kearah atas, menuju titik mati atas (TMA) dan mengkompresi campuran udara dan bahan bakar. Tekanan meningkat dan volume berkurang. Kerja yang diperlukan untuk mengkompresi meningkatkan energi dalam campuran – dan temperaturnya meningkat. Karena cepatnya pengkompresian, maka hanya sebagian kecil energi yang ditransfer ke lingkungan.
Power Stroke. Gaya yang dihasilkan menghantarkan piston kebawah menuju crank shaft (katup-katup tertutup). Volume meningkat dan tekanan menurun. Tidak ada lagi energi yang ditambahkan dan karena peristiwa ini, energi dalam dari gas meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur.
Exhaust Stroke Pada BDC (titik mati bawah), katup pembuangan gas (exhaust valve) terbuka dan piston bergerak keatas silinder. Tekanan jatuh mendekati tekanan luar dari silinder karena katup pembuangan gas terbuka. Gas buang meninggalkan silinder. Volume berkurang.

Daftar Pustaka
» http://randaka.wordpress.com/2010/03/26/nikolaus-august-otto-penemu-mesin-4-tak/
» http://id.wikipedia.org/wiki/Mesin_bensin
» http://ahmaduha.blogspot.com/2010/11/mesin-otto.html
» http://pamio45.blogspot.com/2010/12/mesin-bensin.html

Monday, 20 December 2010

apa itu teknik fisika?

Teknik fisika adalah ilmu teknik yang mempelajari berbagai bidang aplikasi ilmu dasar, ilmu terapan dan pemanfaatan teknologi(Wikipedia). Disiplin ilmu ini tumbuh seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia. teknik fisika diharapkan dapat menjadi jembatan, mendekatkan dan turut serta dalam berbagai kegiatan riset ilmu-ilmu terapan yang mendukung pengembangan engineering dan teknologi.

Dewasa ini, para lulusan dari ilmu keteknikan biasanya memiliki kemampuan yang terspesialisasi, dengan bidang yang bermacam macam, dan berjauh jauhan. Adanya insinyur teknik fisika, displin-disiplin ilmu tersebut berperan menjembataninya. Jika dianalogikan dengan paduan suara para insinyur dengan disiplin ilmu yang berbeda beda dianalogikan sebagai sopran, alto, tenor, dan bass maka insinyur teknik fisika adalah dirijennya, sehingga banyaknya disiplin ilmu menjadi suatu harmoisasi, bagaikan harmoisasi nada dalam paduan suara. Teknik fisika dapat dikatakan dapat memasuki seluruh tahap proses aplikasi ilmu-ilmu dasar dari awal hingga akhir dalam aplikasi ilmu-ilmu dasar, ilmu-ilmu terapan hingga di sektor final pada pengembangan engineering dan pemanfaatan teknologi. Oleh karena fungsi, visi dan misinya, profesi Teknik Fisika sering disebut sebagai frontier engineering.

Teknik fisika berkembang sejak tahun 1940, di dunia, dan 1950 di Indonesia. Pendidikan Teknik Fisika pertama ada di ITB Bandung. Seiring berkembangnya kebutuhan, tingkat penyerapan industri di Indonesia semakin tinggi terhadap insinyur teknik fisika, lalu dibukalah program pendidikan yang sama di ITS Surabaya.

Pendidikan strata pertama Teknik Fisika (S1) menekankan penguasaan ilmu dasar sains dan engineering, sehingga lulusannya dapat berperan sebagai katalisator atau fasilitator project leader dimana usaha-usaha yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu dalam industri, penelitan dan pengembangan dll. Pada strata yang lebih tinggi (S2), mahasiswa diberi bekal penguasaan ilmu-ilmu baru dan penerapannya dalam berbagai bidang kajian dan industri. Bidang-bidang kajian yang kini menjadi pilihan antara lain Computational Materials Science & Engineering, Opticsand Fiber Optics, Laser Communication, Instrumentation and Computation Systems, Medical Instrumentations and Biophysics, Control System and EngineeringBuilt-in Environment, Vibration and AcousticsBidang-bidang keahlian bidang Teknik Fisika antara lain :
  • Instrumentasi dan Kontrol
  • Fisika Bangunan, Akustik dan Energi
  • Rekayasa Bahan (Semi konduktor, Super konduktor, Komposit, Bahan Elektronik)
  • Optik dan Laser
Lulusan Teknik Fisika bekerja di berbagai industri sebagai insinyur bidang instrumentasi dan kontrol (instrumentation and control), akustik dan teknik pencahayaan (lighting), teknologi bahan (material science), serta tata udara (refrigeration and air conditioning), staf peneliti di bidang teknologi terapan, staf pengajar di institusi pendidikan. Perbedaan lulusan Teknik Fisika dengan lulusan teknik lainnya adalah kemampuan untuk bekerja dengan sistem yang melibatkan secara simultan banyak aspek fisika dan teknik.